Cerpen Tentang Ilmu atau Guru

             Barokah atau Bala
Suasana yang syahdu di lingkungan yang selalu di dambakan setiap orang untuk mencari sumber keilmuan, adakah keindahan yang tersingkap di tempat ini?. Di tempat yang sederhana dan banyak orang dalam satu ruangan, tetapi faktor saat ini mempengaruhi semua bidang keilmuan yang mengharuskan orang-orang mendekam di rumah masing-masing. Bagi orang biasa mungkin keadaan ini sangat berbahaya. Tetapi, tidaklah bagi santri. Hal itu baginya wajar. Di karena kan hanya di pikiranya cuma takdir. Dan itu semua hanya tuhan yang menghendaki selagi masih pasrah pada nya. Syahdu lantunan ayat-ayat. Menyertai kehidupan pesantren yang lalu lalang kesibukan santri dalam tolabulilm.
Sebut saja Mario anak kota yang nyantri di pesantren. Mungkin di benak pikiran nya kalo mondok mungkin lebih murah dari pada kos. Juga pesantren nya dekat dengan kampusnya juga. 
Saat pada hari pertamanya mondok Mario dan temannya di kumpulkan, untuk mengikuti pengajian pertamanya. Dan seorang berjubah menuju mimbar  dengan wibawa nya di hormati ratusan santri dalam pengajian. Menyampaikan keberkahan seorang santri. Sesampainya di ujung acara orang berjubah itu pergi meninggalkan mimbar. Tetapi hal aneh di rasakan oleh Mario . Kenapa santri berbondong-bondong dan berebut kedepan. 
“Dasar kurang kerjaan saja kenapa pula santri berdesakan hanya demi sisa segelas air sisa orang berjubah itu” cacinya terhadap santri. 
Mendengar cacian itu Pernyataan bodoh itu. Teman nya pun menepuk jidatnya Dan tertawa.
“Dasar, kau ini santri atau bukan, Mario? Air minum itu banyak barokah nya”. Tungkasnya.
“Barokah apaan?, bekas minum orang kok. Palingan banyak penyakitlah iya”, sambil menatap temannya itu.
“ya Allah, Kamu santri atau bukan sih. Masa kamu ngak percaya barokah. Santri model apa lu.” Sambil menggeleng kepala nya.
“man”, sapaan temannya. “Kita ini pada tahun 2020, zaman modern. Juga tau kan anda pasti. Sekarang ini masih banyak virus. Masak tahayul dulu masih di percaya aja?” Mengelak pendapat temannya itu.
“Bodoh ah, terserah antum. Kalo gak percaya”. Sambil bergegas meninggalkan tempat.
Mario pun merenung. Sekian kalinya dia mendengar kan. Barokah barokah hal yang ter-bullshit. Sejak Mario menginjakkan kakinya di pesantren. Bahwa dia sadar kehidupan di pesantren benar-benar tak bisa di logika. Dia juga mendengar dari ceramah kiai tadi yang tak logis. “Makanan barokah itu bukan hanya dilihat dari segi gizi. Tetapi makanan yang mampu menjadikan orang itu taat pada sang ilahi.
Mario bergegas pergi meninggalkan tempat. Menuju ke kamar dan melakukan aktifitasnya. Dan malam pun telah tiba. Rembulan menyinari lingkungan pondok pesantren dan lantunan makhluk Allah menambahkan kesan Allah terhadap makhluknya. 
Mario termenung di depan aula sambil. Ngobrol ngalor ngidul dengan secangkir kopi panas dan di temani makhluk yang tak jelas bernama man.
“jadi kita harus yakin bahwa barokah itu ada.” Pungkasnya ke Mario. “ Walaupun  di luar sana banyak penyakit yang melanda negeri ini. Tetapi tidaklah bagi santri. Untuk mensyurutkan barokah di pesantren.” Sambil menyeruput kopi hangat.
“saya belum percaya!” menatap wajah man dengan tajam. “Masa air minum bekas kiai barokah itu menyalahi aturan. Gimana sih lu man?” Tungkasnya mengledek si man.
“Terserah kamu lah Mario. Intinya aku udah memberikan tahu tentang barokah.” dengan nada tinggi.
“Eh, man. Mungkin kalo kiai itu bisa memberikan keajaiban. Mungkin dia memakai jampi- jampi”.tungkas nya sambil tertawa terbahak bahak.
“Terserah lu aja, Kualat kamu ntar,” dan meninggalkan Mario sendiri.
 Dan sekarang, lagi-lagi mario duduk termenung di aula  pondok. Kakinya menjuntai, sedang pandangannya erat menatap rembulan. Bundaran cahaya di tengah langit kelam itu, menyadarkan Mario. bahwa ia sudah satu hari  bermukim di pesantren ini. Sengau sang pungguk turut membisikkan pertanyaan-pertanyaannya yang belum terjawab. Pernah Mario bertanya pada semua santri tentang apa yang menjadi pertanyaan di pikiran nya. tapi jawabannya selalu mainstream. Sama sekali tidak ada jawaban yang bisa memuaskan Mario.
“Pasti pak kyai itu menyembunyikan sesuatu”? Dalam pikirannya.
Malam kian menggelayut. Butiran embun kian menjamah, memeluk setiap makhluk. Kesejukan berbalut kedinginan menidurkan semua orang dalam peluknya. Jenuh pun kian menguap, membuat mata Mario terpejam. Lelaki itu duduk bersandar di tembok dengan pikiran yang masih mengawang.
Jam terus berputar, menenggelamkan manusia bersama lelahnya. Sayangnya Mario terlelap. Pemuda itu pun terbangun. Matanya mengerjap. Badan mengigil. Lalu beranjak ke kamar dengan kedinginan.
“Mario kenapa lu ko lemas,” tanya man.
“Aku sakit nih. Ketiduran di aula.” Jawab Mario dlm keadaan mata merah. “ Mungkin saya kualat ya.” Tanya mario.
“Ya mungkin saja” timpal nya “ya karena kamu gak percaya sih.”
“iya, aku sudah merasakan nya.” Dengan nada Ter kekeh
“ya, ini menjadi pelajaran bagimu” mengasak jawab nya “ntar aku sampaikan kepada pak Kiai.” Bergegas menuju dalem pak Kiai.
Pak Kiai mendengar cerita si man langsung menghampiri Mario ke kamar nya dengan lembut nya pak Kiai memijat Mario.
“kenapa nak ko bisa gini.” Menanyakan sambil memijat Mario .
“ maaf kan saya pak Kiai, mungkin ini pelajaran bagi saya. Untuk menyadarkan saya untuk mempercayai barokah.” Jawab Mario dengan nada terkekeh.
“ya saya maafkan, mungkin ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa barokah adalah nikmat Allah yang di berikan langsung tanpa di lihat orang. Dan tidak bisa di logika karena itu semua hanya kemarifatan dengan kepercayaan yang kuat.” Menasehati Mario dengan nada yang lembut. “man ambilkan air itu” pak Kiai memerintahkan kepada si man untuk mengambil air.
“ Ini pak kiai, airnya” mebeikan segelas air putih.
“Minumlah, semoga Kanti Lantara ini lekas sembuh.” Mendoakan dalam bahasa Jawa.
“Iya pak Kiai.” Meminum air yang di berikan oleh pak Kiai.
Dengan kejadian itu, Mario mulai belajar apa yang sudah menjadi pelajarannya bahwa barokah itu ada. Dan bukan atau menjadikan balak bagi kehidupan di saat sekarang ini.
 

Komentar

Posting Komentar

Semoga bermanfaat jangan lupa 👍